Grade Kesulitan Panjat Tebing

climbing isn’t safe; it’s dangerous.
You can make it safer but you cannot make it safe.
With this awareness your attention is focused effectively
on the situation and the consequences.
You’ll be less likely to feel safe and protected,
and therefore act in ways that keep you as safe as possible

Feeling Safe is Dangerous , Arno Ilgner

Ada beberapa macam sistem yang digunakan di dunia dalam menentukan tingkat kesulitan panjat tebing. Beberapa yang populer adalah sebagai berikut:

Sistem UK

Sistem ini menggunakan 2 sub grade, adjectice grade (sifat) dan technical grade (teknis). Adjective grade menggambarkan kesulitan secara menyeluruh dari perkiraan seberapa susah jalur pemanjatan, jumlah kesulitan yang dialami dan ketersediaan pengaman. Adjective grade terdiri dari:

Moderate (M), Very Difficult (VD), Hard Very Difficult, Mild Severe,Severe (S),Hard Severe (HS), Mild Very Severe (MVS), Very Severe (VS), Hard Very Severe (HVS) dan Extremely Severe. Extremely Severe dibagi lagi menjadi 10 sub grade yaitu dari E1 sampai E10.

Sedangkan sistem numerik pada technical grade menggambarkan tingkat kesulitan tersulit (crux) selama dalam pemenjatan. Jika pemanjatan dilakukan multi pitch maka masing-masing pitch akan mendapatkan technical grade untuk masing-masing pitch. Tecnical grade terdiri dari:

4a, 4b, 4c, 5a, 5b, 5c, 6a, 6b, 6c, 7a, 7b, 7c …..dan selanjutnya…

Sistem Perancis :

Sistem ini dikenal sebagai sistem untuk tingkat kesulitan dalam sport climbing makanya banyak digunakan di jalur papan panjat. Tidak seperti sistem UK, sistem ini menggunakan penomeran tunggal untuk menggambarkan seberapa sulit suatu jalur secara menyeluruh. Hal ini bisa menyebabkan masalah, misalkan suatu jalur mudah dilewati oleh pemanjat pemula, maka bisa menjadi jalur yang sulit pada pengkategoriannya.

Sistem UIAA :

Sistem Union Internationale des Associations d’Alpinisme (UIAA) ini banyak digunakan di Jerman dan Austria. Sama seperti sistem Perancis,menggunakan penomeran tunggal untuk menggambarkan seberapa sulit suatu jalur secara menyeluruh, sistem ini diawali dari 1 (mudah) sampai 10 (sulit).Karena tingkat kesulitan bertambah, maka dilakukan penambahan + atau – biasa dilakukan untuk membedakan antar grade pemanjatan. jalur 11+ dan 12- sekarang banyak dipanjat oleh para pemanjat.

Sistem Australia :

Sistem ini digunakan di Australia dan New Zealand dengan menggunakan sistem logika. Sistem ini menggunakan sistem penomeran tunggal, semakin sulit suatu jalur maka angka akan semakin tinggi. Tidak seperti Sistem Perancis dan Sistem Amerika yang tidak mempertimbangkan ketersediaan pengaman, Sistem Australia akan meningkat tingkat kesulitannya jika jumlah pengaman sedikit.

Sistem Amerika :

Sistem ini berawal dari 1 sampai 5, tapi hanya grade 5 yang digunakan untuk panjat tebing. Grade 1 sampai 4 digunakan untuk menggambarkan berjalan dengan sedikit kesulitan, dan grade 5.0 berjalan dengan scramble yang sulit.

Sistem ini disebut juga dengan Yossemite Decimal System (YDS). Pengkatagorian berasal dari USA dan saat ini banyak di gunakan untuk menentukan grade kesulitan panjat tebing. Pengkatagorian demikian biasanya digunakan untuk jenis pendakian free-climbing atau free-soloing [Memanjat sendiri tanpa alat bantu dan pengaman apapun, biasanya pada jalur pendek].

Anehnya YDS sendiri menyalahi kaidah matematis penghitungan decimal, dimana misalnya suatu jalur mempunyai ketinggian 5,9 [lima point sembilan] lalu grade selanjutnya menjadi 5.10 [lima point sepuluh]. Peng-angka-an ini menjadi aneh akibat grade 5.9 lebih rendah dibanding dengan 5.10, padahal dalam matematika sebaliknya. YDS sendiri diawali dengan grade 5.8 atau 5.9, selanjutnya 5.10, 5.11, 5.12, 5.13 dan 5.14. Sampai saat ini tidak ada grade melebihi 5.14.

Perkembangan keanehan peng-angka-an decimal ini menurut beberapa diskusi pegiatan pendakian dan panjat tebing akibat keselahan memprediksikan kemampuan pendakian pada saat system YDS dipublikasikan. Dimana pada saat itu diperkirakan kemampuan pendakian / panjat hanya sampai grade 5.9. Padahal dalam kemudian berkembangan kemampuan pendakian / pemanjatan yang lebih mutakhir dan luar bisa.

Bahkan saking sulitnya menentukan dengan hanya angka-angka decimal yang terbatas, seiring dengan banyaknya jalur pendakian/pemanjatan yang dibuat oleh kalangan pemanjat, maka grade decimalpun ditambahkan dibelangkannya dengan alfhabet.
Contoh; 5.12a, 5.13 d atau 5.14 c

Memang sampai saat sekarang barangkali hanya ada beberapa jalur yang dibuat manusia dengan grade 5.14, itupun terbatas pada jalur-jalur pendek.

Secara umum grading dengan YDS dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • 5.8 ; jalur yang ditempuh mudah, grip [pegangan] sangat bisa digunakan oleh bagian tubuh yang ada untuk menambah ketinggian
  • 5.9 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3 bertahan 1 mencari, contoh 5,9 :

  • 5.10 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3 bertahan 1 mencari, hanya saja perlu keseimbangan [balance] yang baik
  • 5.11 ; dapat bertahan pada 2 atau 3 grip dengan satu diantaranya sangat minim dan perlu keseimbangan. Jalur hang hampir bisa dipastikan memiliki grade demikian.
  • 5.12 ; terdapat 2 dari 2 kaki dan 2 tangan yang dapat digunakan untuk menambah ketinggian. Dengan kondisi grip yang kecil di satu bagiannya atau paling tidak sama, contoh 5,12 :

  • 5.13 ; hanya 1 dari diantara 2 kaki dan 2 tangan yang dapat digunakan untuk menambah ketinggian, itupun dengan grip yang sangat minim.
  • 5.14 ; mulus seperti kaca, tidak mungkin terpikirkan untuk dapat dibuat jalur pendakian/pemanjatan tanpa bantuan alat (artificial climbing), contoh 5,14 :

Sumber : Mapala UPN Yogyakarta dan sumber lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: